Raja dan Si Miskin

Downloads: 
  • File icon Raja dan Si Miskin (teks dalam tiga bahasa)
    Download Lihat185.45 KB

Judul dalam bahasa Kulisusu: Raja te La Misi-misikini

Diceritakan oleh: Wa Ode Samiyra

Tanggal: tahun 1978


Pada suatu hari si raja pergi berkunjung ke rumah si Miskin dengan maksud dan tujuan hendak mengadakan perundingan dengan Si Miskin. Setibanya di rumah si Miskin itu, si Miskin terkejut dan berkata pada raja, “Wahai raja yang datang, mengapakah tuan di sini?” Raja menjawab padanya, “Hai, Miskin, janganlah engkau takut, saya ini datang padamu dengan maksud yang baik sekali.” Si Miskin bertanya, “Apakah maksud tuan yang baik itu?” Kemudian raja berkata pada si Miskin, “Saya ini ada maksud mengadakan perjanjian dengan engkau jika engkau mau.” Si Miskin bertanya pula, “Perjanjian mengenai apakah itu?” “Begini hai Miskin, kalau seandainya sebentar anak kita lahir kita kawinkan mereka. Kalau anakmu adalah laki-laki dan anak saya perempuan kita kawinkan mereka, demikian juga sebaliknya.” Perjanjian itu dimufakati bersama dengan ikhlas. “Tetapti kalau sebentar sama-sama perempuan kita persahabatkan mereka, dan kalau sama-sama laki-laki kita pertemankan mereka.”

Tidak lama kemudian lahirlah anaknya si Miskin dan kebetulan adalah anak laki-laki. Mendengarkan itu si raja berdoa, mudah-mudahan sebentar kalau ia lahir adalah anak perempuan. Tetapi rupanya doa si Raja itu terkabul. Pada suatu ketika lahirlah anaknya yaitu anak perempuan. Si Raja jadi gembira bukan kepalang. Anaknya si Miskin tersebut dinamainya si Miskin juga, sedangkan anaknya si Raja tadi dinamainya Sitti Maria.

Setelah beberapa lama kemudian si Miskin dan Sitti Maria sudah menjadi agak besar, mereka berteman bermain-main. Pada saat itu Sitti Maria sangat senang berteman dengan si Miskin demikian pula sebaliknya, si Miskin tidak senang kalau ia tidak berteman dengan Sitti Maria tersebut.

Tiada lama mereka semakin besar, Sitti Maria sudah akan dimasukkan sekolah oleh ayahnya. Mulai saat itu ia menyampaikan pada ibunya bahwa Sitti Maria sudah akan masuk sekolah, dan si Miskin menyampaikan pula pada ibunya bahwa is sudah ingin masuk sekolah bersama-sama dengan Sitti Maria. Mendengarkan permintaan anaknya itu ibu si Miskin berkata padanya, “Bagaimanakah engkau bisa masuk sekolah sedangkan kita ini adalah orang yang paling miskin di sini dan pakaianmu tidak ada. Sedangkan Sitti Maria itu anaknya Raja yang sangat kaya.”

Lalu si Miskin menyuruh ibunya untuk menjahitkan sarungnya menjadi celana dan baju. Kata si Miskin, “Jahitkanlah sarungku ini untuk baju dan celanaku, biarlah saya tidak memakai sarung bila saya tidur asalkan saya bisa bersekolah bersama-sama dengan Sitti Maria.” Ibunya mengikuti kemauan anaknya dan diambillah sarungnya untuk dijahit menjadi baju dan celananya. Sedangkan Sitti Maria saat itu sudah lama masuk sekolah. Setelah pakaiannya selesai masuklah si Miskin bersekolah dengan Sitti Maria, dan mereka berkawan dengan penuh kasih sayang antara keduanya. Sitti Maria kadang-kadang memberinya segala apa yang dibutuhkan oleh Si Miskin.

Pada suatu ketika Raja pergi ke rumah si Miskin dan diliahtnya si Miskin tersebut sedang tidur tanpa memakai sarung lagi. Maka berkatalah ia kepada ibu si Miskin, “Mengapa ia tidur tidak memakai sarung?” Ibunya menjawab, “Ia tidak punya sarung lagi karena telah dijadikan baju dan celana agar ia bisa masuk sekolah bersama-sama dengan Sitti Maria.” Mendengar keterangan ibu si Miskin tersebut, Raja merasa sedih dan kasihan terhadap s Miskin itu, karena is tahu bahwa si Miskin adalah calon anak menantunya. Kemudian Raja memberikan beberapa potong pakaian untuk si Miskin. Antara Raja dan ibunya si Miskin terjalin hubungan yang erat, karena dahulu mereka telah mengadakan suatu perjanjian akan mengawinkan anak mereka. Kemudian raja kembali ke rumahnya.

Begitulah seterusnya antara si Miskin dan si Sitti Maria mereka berkawan dan bergaul dengan intimnya dan kian lama mereka menjadi besar dan menjadi remaja. Mereka saling menyayangi dan saling menaruh hati sesama mereka, akhirnya mereka saling mencintai. Jalan tercapai maksud kedua orang tua mereka mulai terbuka. Antara mereka sering pergi berjalan berdua-duaan, saling kunjung-mengunjungi. Kedua orang tua mereka sangat senan melihat anak mreka berteman dengan baik dan saling mengasihani.

Pada suatu waktu di saat si Miskin dan Sitti Maria sedang menjalin hubungan yang mesra, datanglah seorang kapten kapal dengan kapalnya yang megah. Kapten tersebut mendarat di negeri itu dan berjalan-jalan menyaksikan keindahan dalam kampung itu. Dan kebetulan ia meliaht seorang gadis yang amat cantik sekali. Gadis itu adalah Sitti Maria, anak raja negeri itu. Kapten itu mulai jatuh cinta kepadanya dan berusaha agar ia dapat merebutnya. Karena kecintaannya itu, kadang-kadang ia merasa kecewa dan sakit hati bila ia melihat Sitti Maria dan Si Miskin sedang berjalan-jalan berduaan di mana saja. Kapten itu makan hati terhadap mereka.

Sementara itu Sitti Maria ingin memiliki kapal yang besar seperti kapalnya kapten tersebut. Keinginannya itu disampaikannya kepada ayahnya dan dikabulkan. Maka dipanggillah Kapten kapal tadi untuk disuruh membuatkan kapal untuk anaknya. Kapten kapal itu sangat gembira ketika mendapat panggilan dari Raja, karena anaknya sementara ia cinta. Berangkatlah Kapten itu menghadap kepada Raja.

Waktu di rumah raja dilihatnya Sitti Maria lalu lalang di mukanya, jantung hatinya berdebar-debar bukan kepalang, sehingga ia jadi gelisah pula. Pembicaraan tentang pembuatan kapal dimufakati bersama. Keesokan harinya kapten tersebut mulai membuat kapal di tempat pembuaan kapal yang telah disiapkan.

Di saat kapten sedang bekerja si Miskin dan Sitti Maria selalu pergi melihatnya sambil memperlihatkan diri mereka kepada kapten itu dengan percakapan yang serius di antara mereka. Hal in membuat Kapten itu tidak merasa senang makan hati dan mulai iri hati kepada si Miskin, karena ia mulai tahu bahwa antara Siti Maria dan SI Miskin itu mereka sementara bercinta-cintaan. Sedangkan Kapten itu tahu, bahwa pemuda yang mencintai Sitti Maria itu adalah pemuda miskin, dan ia tahu bahwa dirinya adalah kaya raya. Demikianlah sikap antara Sitti Maria dan si Miskin itu kepada kapten tersebut, yang seolah-olah mereka sedang mengolok-oloknya.

Namun demikian karena besarnya keinginannya kepada anak raja tersebut, maka ia selalu berusaha untuk bisa mempengaruhinya. Bila ia sudah bekerja dan istirahat digunakannya waktunya dengan sebaik-baiknya untuk pergi ke rumah ayahnya untuk dapat mendekatan sambil mengemukakan maksud itu kepada raja.

Tidak lama kemudian kapal yang dibuatnya selesailah. Dan Kapten tersebut ingin kembali ke negerinya dengan maksud untuk menyampaikan kepada sang Raja dan seluruh keluarganya bahwa ia akan mengawini seorang putri raja di negeri yang telah didatanginya tadi. Dan ia hendak mengambil segala perlengkapan perkawinannya, yang walaupun sesungguhnya belumlah terlalu pasti ia akan diterima.

Pada saat itu si Miskin ingin sekali untuk mengunjungi dan melihat negeri yang ramai, dan ingin mengikuti Kapten kapal tersebut bila ia berangkat. Maka berangkatlah kapten tersebut dengan mengendarai kapal yang telah dibuatnya tadi (kapalnya Sitti Maria).

Lalu si Miskin pergi meminta ijin kepada raja serta ibu Sitti Maria agar ia diluaskan untuk berangkat bersama Kapten kapal tersebut. Raja dan ibu Sitti Maria tidak meluaskannya, karena khawatir jangan sampai dibunuh oleh Kapten kapal, sebab Kapten kapal itu menaruh dendam kepadanya. Si Miskin tetap bertahan ia harus berangkat, dan akhirnya diluaskan untuk berangkat.

Sebelum ia berangkat ia memberikan sehelai benang merah pekada itu Sitti Maria seraya berkata, “Simpanlah benang ini, kalau seandinya benang ini sudah berubah menjadi warna putih berarti saya sudah mati dan kalau masih tetap merah berarti saya masih tetap hidup.”

Kemudian ibu Sitti Maria memberinaya tujuh butir beras dan berkata pula kepada si Miskin itu, “Ambillah beras ini dan simpanlah baik-baik, jangan engkau buang, sebagai ajimatmu.”

Setelah mereka berunding dan kapal yang akan ditumpanginya sudah akan berangkat, maka berangkatlah si Miskin dengan diantar oleh si Raja dan inbunya Sitti Maria serta Sitti Maria sendiri sambil bersalam-salaman.

Di tengah perjalanan di sat si Miskin dedang tidur, Kapten kapal tersebut mendekati si Miskin dengan maksud dan tujuan hendak membuangnya ke laut. Tatkala Kapten tersebut hendak mengangkatnya, terbangunlah ia dan Kapten kapal itu lari. Di saat lain Kapten kapal itu menghampiri lagi si Miskin pada tengah malam sewaktu ia sedang tidur dengan nyenyaknya, dan secara cepat ia mengangkatnya dan membuangnya ke laut. Kemudian kapalnya dilajukan secepat-cepatnya, maka jatuhlah ia ke laut.

Kapten kapal itu terus melaju, dan si Miskin ditinggalkan saja terampung di laut, berenang ke sana ke sini mencari keselamatannya. Tidak lama kemudian ia melihat sebuah kapal putih dari jauh yang seolah-olah sedang menuju kepadanya, dan mulai saat itu merasa gembira karena ia merasa sudah akan hidup. Beberapa lama kemudian tibalah kapal yang diduganya tadi, tetapi setelah tiba bukanlah kapal hanyalah seekor babi putih yang amat besar. Lalu babi itu berkata, “Mengapa engkau berada di sini hai si Miskin?” Si Miskin menjawab, “Begini ceriteranya sehingga saya berada di sini. Saya ini hendak pergi ke suatu negeri yang ramai, saya ingin melihatnya. Tetapi di tengah perjalanan saya dibuang oleh Kapten kapal pada waktu tengah malam tatkala saya tidur nyenyak. Kemudian kapal itu meninggalkan saya di sini.”

Mendengar keterangan itu, babi tersebut menanya lagi, “Jadi kalau begitu sekarang kau mau kemana? A;akah engkau akan kembali ke negerimu ataukah akan meneruskan ke tujuanmu?” Si Miskin menjawab, “Saya akan meneruskan perjalananku ke negeri yang ramai, karena saya ingin melihatnya.”

Lalu babi putih itu mengatakan kepadanya, “Kalau begitu janganlah engkau takut, saya bisa menolongmu.” Babi tu meyuruh si Miskin untuk bertengger di punggungnya, guna di selamkannya ke dasar laut. Si Miskin naik bertengger di punggung babi tersebut lalu dibawa ke negeri tujuannya. Hanya beberapa saat saja sampailah mereka di sana mendarat di pinggir pantai. Setelah itu babi putih itumenyuruhnya untuk memotong segumpal dagingnya. Diambilnyalah dagingnya. Lalu berkatalah babi itu kepada si Miskin, “Kalau seandainya sebentar engkau mendapat kesulitan maka bakarlah daging itu, pasti saya akan datang.” Dan pergilah babi itu.

Di tepi pantai itu diliahtnya ada seorang yang sedang membuat kapal, dan ia bertanya, “Mengapakah di negeri ini tidak ramai, sedangkan saya mendengar berita negeri ini adalah negeri yang ramai?” Kemudian orang tersebut mejelaskan padanya, “Begini hai anak, negeri ini tidak ramai karena sekarang ini anak raja sedang sakit keras. Semua dokter, dukun dan mantri tidak dapat menyembuhkannya. Dan sekarang mereka sudah berada dalam penjara. Si Raja sudah tidak percaya lagi kepada mereka, mereka itu adalah pembohong. Mereka itu tidak bisa keluar kalau puteri raja belum sembuh.”

Mendengar keterangan itu si Miskin berkata, “Orang-orang itu sudah akan selamat, dan pasti mereka akan keluar dari penjara. Karena saya bisa menyembuhkan penyakit anak raja itu.”

Setelah orang itu mendengar pernyataannya, lalu orang itu menyampaikan bahwa ia telah mendengar pengumuman dari Raja, bahwa barang siapa yang dapat menyembuhkan penyakit anaknya ia akan mengawinkannya dengan orang tersebut. Si Miskin berkata lagi, “Saya bisa menyembuhkannya. Pergilah sampaikan pada raja itu bahwa saya bersedia untuk mengobatinya.” Maka orang tersebut pergi menyampaikan pada raja bahwa ada seorang anak yang asalnya tidak diketahui, menyatakan kesanggupannya untuk mengobatinya.

Sampai di sana ia menghadap pada raja dan menyampaikan bahwa ada orang yang akan dapat menyembuhkan anaknya. Raja bertanya, “Di mana anak it? Pergilah panggil dia dan suruh menghadap pada saya.” Orang yang melaporkan itu kembali menemui si Miskin agar ia pergi menghadap pada raja. Datanglah mereka dengan mengendarai sebuah mobil dan baru mulai pada saat itu Miskin itu melihat mobil yang jalan di negeri itu.

Orang-orang yang datang mengunjuni si Miskin tiba padanya, lalu memanggilnya untuk menghadap pada raja. Si Miskin menjawab, “Pergilah dulu ke rumah raja nanti saya akan menyusul,” dan ia minta sebuah korek api dan orang tadi pun kembali.

Pada saat mereka kembali si Miskin mulai membakar daging babi yang diambilnya tadi, maka terciumlah baunya oleh babi putih yang telah pergi tadi, segeralah ia datang kepada si Miskin tadi. Kemudian babi itu bertanya kepada si Miskin, “Apakah yang engkau susahkan sekarang?” Si Miskin menjawab, “Tadi saya sudah mengaku bahwa saya akan bisa menyembuhkan anak raja yang sedang sakit. Orang-orang yang mengobatinya semuanya sudah berada dalam penjara karena tidak dapat menyembuhkannya.”

Kemudian babi itu menyuruhnya lagi untuk mengambil dagingnya untuk dijadikan sebagai obatnya. Babi itu berkata lagi, “Bila engkau akan mengobatinya maka gosokkanlah daging ini di mana saja badannya yang sakit, pasti ia akan sembuh.” Sesudah memberikan caranya itu, babi itu segera pergi kembali.

Tidak lagi kemudian datanglah orang-orang tadi memanggilnya agar ia segera pergi mengobati anak raja. Sementara itu mereka terlebih dahulu memberikan pakaian kepadanya karena pakaiannya sobek-sobek semuanya. Si Miskin mengambil dan memakainya. Lalu mereka berangkat ke rumah raja. Setibanya di rumah raja ia disambut oleh raja dengan serius. Si Miskin yang hendak mengobatinya itu dipersilahkan oleh raja untuk mengobatinya. Tetapi ia tidak berani kalau ia hanya sendirian. Putri raja yang sakit tadi berada di dalam kelambu yang tebalnya tujuh lapis. Raja berkata, “Tidak usahlah engkau takut, bila ia sembuh ia akan menjadi isterinya.”

Maka masuklah si Miskin mengobatinya. Dilihatnya Putri raja tersebut tidak dapat bergerak dan berbicara lagi. Si Miskin menanya padanya, “Di manakah badanmu yang sakit?” Putri raja tidak menjawab sedikit pun. Lalu si Miskin menggosokkan daging babi yang dibaahnya, kesuluruhan badannya sampai pun kepada auratnya, samapi daging itu habis semuanya. Tidak lama kemudian maka secara berangsur-angsur anak itu mulai sadar dan bangun dari tempat tidurnya, lalu berteriaklah, “Wah, saya lapar sekali, segeralah kamu memasak! Saya ingin makan.” Mereka pun memasaknya dan memberinya makan. Maka sembuhlah Putri raja tersebut, dan Raja sangat gembira karena anaknya yang diduganya sudah akan mati telah sembuh.

Putri raja itu kian lama kian sembuh dan menjadi gemuk kembali. Maka perkawinan dilangsungkan. Sang Raja yang telah berjanji tadi segera mengawinkan si Miskin dengan putrinya yang tersayang dan tahta kerajaan diberinya pula kepadanya. Sedang pada saat itu Kapten kapal yang membuangnya belum juga tiba.

Sesaat kemudian Kapten kapal barulah tiba di negeri itu, di mana si Miskin sudah menjadi rajanya. Kapten itu menghadap kepada raja untuk menyampaikan maksudnya, ia melaporkan bahwa kedatangannya adalah untuk mengambil perlengkapan perkawinannya dengan seorang anak raja yang dicintainya di negeri yang dikunjunginya. Kapten itu tidak mengetahuinya sedikitpun bahwa raja yang dihadapinya itu sudah si Miskin yang dibuangnya di laut. Kapten itu pun bermaksud memanggil sang raja agar dapat menghadiri perkawinannya. Raja menyetujui permintaannya dan bersedia untuk hadir dan bertindak sebagai walinya.

Raja menyuruh mereka berangkat dahulu, dan raja nanti akan menyusul kemudian. Kapten kapal serta semua leuarganya berangkat, sedangkan raja baru akan membuat sebuah cincin emas yang diberinya permat dengan tujuh butir beras yang diberikan ibunya Sitti Maria pada waktu ia akan berangkat. Setelah selesai maka berangkatlah raja menuju negeri tempat Kapten kapal akan kawin, dengan mengendarai sebuah helikopter, dan mendarat di pinggir rumah ibunya pada waktu malam. Pada saat itu ia tiba dilihatnya di tempat perkawinan itu sudah ramai sekali. Pada saat Kapten kapal tiba diketahui bahwa si Miskin sudah tidak ada lagi, dan mereka mengira dia sudah mati dibuang oleh Kapten kapal tersebut. Perkawinan segera akan dilangsungkan, maka pergilah mereka memanggil sang raja yang datang untuk menghadiri Kapten kapal dengan puteri raja.

Datanglah raja dengan isterinya yang cantik itu. Mereka dipersilahkan duduk berdampingan. Pada saat itu putri raja (Sitti Maria) sudah sakit hati tak mau dikawinkan dengan kapten itu. Setelah raja duduk turunlah ibu Sitti Maria sambil memperhatikannya. Dilihatnya di tangannya ada sebuah cincin emas yang mempunyai permata tujuh butir beras. Ia mulai ragu dan mengira bahwa raja yang hadir itu adalah si Miskin yang pergi bersama Kapten kapal itu.

Lalu ia pergi memeriksa benang yang disimpannya. Ternyata warnanya masih tetap merah. Ibu Sitti Maria pergi memanggil Siti Maria untuk memeriksa raja itu, apakah ia adalah si Miskin atau bukan. Sitti Maria turun memeriksanya, dan diliahtnya pula cincinnya yang bermatakan ujuh buah butir beras, serta memperhatikan wajahnya, ia berkepastian bahwa raja itu adalah betul-betul si Miskin. Setelah ia tahu bahwa ia adalah si Miskin yang sangat dicintainya pergilah mandi dan mengenakan pakaiannya, kemudian ia turun kembali dan langsung ia duduk di pangkuan raja si Miskin tadi. Kemudian ia berkata, “Saya tidak mau kawin dengan Kapten itu, saya akan kawin dengan raja ini. Raja ini adalah si Miskin tunanganku dahulu yang telah lama kutunggu.” Meliaht kejadian itu Kapten kapal yang akan kawin tadi menjadi pusing, dan meninggalkan tempat itu, pergi ke kapalnya dan bunuh diri.

Akhirnya si Miskin yang telah jadi raja dan beristeri tadi dikawinkan pula dengan Sitti Maria. Dan mereka mulai saat itu mulai gembira karena antara Sitti Maria dan si Miskin dapat bertemu kembali sesuai dengan perjanjian kedua orang tua mereka. Sesudah kawin raja si Miskin bersama isterinya yang pertama dan yang kedua dan ibunya si Miskin sendiri kembali ke negeri tempat ia berkuasa.


Cerita ini dapat diambil dalam bentuk pdf yang ditulis dalam tiga bahasa.


BACA
CERITA
LAINNYA


 

TEXT_Misikini_(400x300).JPG