Kelapa Ular-Ular

Downloads: 
  • File icon Kelapa Ular-Ular (teks dalam tiga bahasa)
    Download Lihat200.75 KB

Judul dalam bahasa Kulisusu: Ni'i Ngka'ulo-ulo

Diceritakan oleh: La Ode Umar M.

Tanggal: tahun 2013


Ada sekelompok pemuda, mereka berjumlah tujuh orang, melihat seorang perempuan yang berlagak seperti laki-laki. Ia memakai songkok dan baju laki-laki. Ia pandai memanjat kelapa ular-ular (pohon kelapa yang bengkok batangnya menyerupai ular). Pemuda-pemuda itu bilang, “Kamu ini perempuan.” Ia menjawab, “Bukan, saya ini laki-laki.”

Kata pemuda itu, “Kalau begitu, coba kamu panjat kelapa. Kalau kamu bisa panjat berarti kamu laki-laki, kalau tidak bisa panjat berarti perempuan. Mari kita pergi ke pulau itu dan memanjat kelapa.” Kebetulan pemuda-pemuda itu tidak bisa memanjat, sedangkan perempuan itu dapat memanjat dengan cepat sampai ke puncak dan naik ke pelepahnya. Pemuda-pemuda itu berkata, “Berarti, ia adalah laki-laki.”

Waktu ia sampai di atas kelapa ia melihat ke rumahnya. Ia dapat melihat jendela di bagain atap rumahnya, maka berlinang dan bercucuranlah air matanya. Pemuda-pemuda tadi menadah air matanya, dan mereka jilat ternyata rasanya asin. Berkatalah pemuda itu, “Kamu ini perempuan.” Perempuan itu berkata, “Oh, tidak. Mataku digigit semut kelapa sehingga saya gosok dan keluar air mataku.”

Kata pemuda itu, “Coba kita kencingi kulit lokan/tiram ini, kalau tembus berarti kamu adalah laki-laki.” Setelah dikencingi ternyata ia bisa menembus kulit tiram itu, dan juga pemuda-pemuda itu tembus. Kata mereka, “Oh, berarti kamu ini memang laki-laki.”

Karena mereka sudah menuduh perempuan tadi adalah laki-laki, maka ia berkata, “Kalau begitu, saya mau pulang ke kampungku.” Di antaralah perempuan itu ke pelabuhan dan ia naik perahu.

Setelah jauh meninggalkan pelabuhan ia membuka songkoknya dan rambutnya jatuh terurai di betisnya dan membuka baju laki-lakinya, ternyata ia adalah perempuan.

Akhirnya enam orang pemuda itu tergila-gila. Mereka terjun di laut dan berenang mengejar perahu itu. Ada satu orang yang beriman dan tak gelisah ia tak berenang tetapi menumpangi sampan dan mendayung mengejar perahu itu sampai ke kampung dan ia selamat.

Setelah sampai di kampung pemuda yang satu ini naik ke rumah bapaknya perempuan itu dan berkata, “Saya inilah jodoh anakmu dan saya ingin kawini, karena saya inilah yang sampai ke sini.”

Akhirnya mereka dikawinkan. Sedangkan enam orang pemuda tadi meninggal di tengah laut yang dalam.

Tamat.


Cerita ini dapat diambil dalam bentuk pdf yang ditulis dalam tiga bahasa. 


BACA
CERITA
LAINNYA


 

TEXT_ni'i_(400x300).JPG